Sabtu, 03 Mei 2014

Sajak Persahabatan

Dia adalah Yahya. Teman masa kecilku.

Yahya adalah anak tunggal yang terlahir dari sebuah keluarga berada. Ayahnya bekerja di sebuah pabrik ternama di kotaku. Ibunya adalah anak seorang juragan beras sukses. Meski demikian Yahya sama dengan anak laki-laki pada umumnya. Dia suka bermain burung dara. Sama seperti teman-teman sebayanya. Burung daranya hanya seekor. Selalu dibawanya ke tanah lapang ketika pulang SD. Sepertinya Yahya sangat menyayangi burung itu.

Suatu ketika penyakit jantung ibu Yahya kambuh dan harus dibawa ke rumah sakit. Tak lama ibu Yahya pun meninggal. Waktu itu Yahya masih duduk di kelas 5 SD. Yahya menangis ketika ibunya akan dibawa oleh pelayat ke pemakaman. Namun tidak lebih dari 1 bulan Yahya kembali ke aktivitasnya yang dulu. Bermain burung dara.

Kelulusan SD aku pindah ke kota lain untuk melanjutkan SMP. Aku tidak lagi bertemu Yahya. Aku dengar ayahnya telah menikah dengan seorang janda. Yahya tinggal bersama keluarga barunya itu. Bersama ibu dan saudara-saudara tirinya.

3 tahun menempuh SMP akhirnya aku kembali ke kampung halamanku disini. Aku ingin masuk SMK favorit di kota asalku ini. Sampai suatu sore aku berjalan menyusuri area persawahan milik orang. Aku melihat pemuda berbadan kurus berjalan menuju ke arahku. Kaosnya berwarna merah polos terlihat sedikit kedodoran di badannya. Celananya yang hitam komprang mengikuti langkah kakinya yang semakin dekat ke arahku. Yah, itu Yahya. Yahya teman masa kecilku. Tapi tatapannya kosong. Semakin dekat denganku, langkahnya semakin pelan. Dia berhenti tepat di hadapanku. Aku semakin bingung melihat tingkahnya. Yahya seolah tak mengenaliku. Dahinya terlihat mengkerut sembari matanya menyipit menatapku. Ah aku pikir dia pasti ingat padaku. Aku senyum padanya. Karena tidak lebih dari 10 detik pasti dia berhasil mengingatku, teman masa kecilnya. Mulutnya mulai membuka seolah-olah akan mengucapkan sesuatu. Aku semakin bersemangat membiarkannya menebak namaku. Namun Yahya tetap tergagap menatapku dan berkata, “a....aku....aku sakit”. Kemudian dia pergi seperti orang bingung.

Aku masih diam berdiri disana. Di pematang sawah milik orang. Seolah aku tak percaya dengan apa yang terjadi beberapa saat yang lalu. Dia tidak ingat padaku? Dan apa yang dia katakan? Sakit?

Matahari mulai tenggelam. Aku kembali ke rumah. Usai sholat magrib aku bercakap-cakap dengan Bapak. Aku cerita tentang kejadian sore tadi di pematang sawah. Tentang aku bertemu Yahya, teman masa kecilku. Bapak mengatakan bahwa sejak ayah Yahya meninggal dunia, Yahya ikut ibu tiri dan saudara-saudara tirinya. Mereka masih tinggal di rumah yang dulu orang tua kandung Yahya tinggal bersama. Rumahnya masih tetap besar. Hanya saja rumah itu tidak seindah dulu waktu ibu Yahya masih hidup. Aku sempat bertanya pada Bapak apakah Yahya sakit. Tapi kata Bapak, tidak ada yang tahu pasti penyakit Yahya. Mereka hanya tahunya Yahya amnesia. Dulu katanya ketika burung dara Yahya diterbangkan di lapangan, burung itu tidak kembali lagi. Kemudian orang-orang mengatakan bahwa “Dorone ilang, ingatane melu ilang”. Aneh jika hanya karena burung dara hilang kemudian ingatannya ikut hilang. Sampai sekarang aku belum tahu sakit apa Yahya. Dan kenapa itu bisa terjadi padanya.

Aku yakin dia sebenarnya masih mengingatku. Hanya saja sakit aneh itu membatasi memorinya. Dia tidak bisa mengungkapkan apa yang dia ingin ungkapkan. Sehingga dia hanya mengatakan “aku sakit” kepada tiap orang yang ditemuinya, yang mungkin dia rasa bahwa dia mengenalinya.

Aku dengar juga rumah besar milik Yahya itu sekarang telah diatasnamakan salah satu anak dari ibu tirinya itu. Aku tidak mau ikut campur. Tapi Yahya, dia teman baikku. Teman masa kecilku yang telah berubah menjadi Yahya yang linglung yang hanya melongo ketika melihat anak-anak kecil bermain burung dara. Yahya yang tidak bisa mengingat orang-orang disekitarnya, dan hal-hal kecil di masa lalunya. Memorinya memang hilang, tapi nuraninya masih ada dan mencoba memahami sekitarnya...



Thanks to Yahya

Aku dedikasikan tulisan ini buat kamu yang sekarang entah dimana....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar