Dia adalah Yahya. Teman masa kecilku.
Yahya
adalah anak tunggal yang terlahir dari sebuah keluarga berada. Ayahnya
bekerja di sebuah pabrik ternama di kotaku. Ibunya adalah anak seorang
juragan beras sukses. Meski demikian Yahya sama dengan anak laki-laki
pada umumnya. Dia suka bermain burung dara. Sama seperti teman-teman
sebayanya. Burung daranya hanya seekor. Selalu dibawanya ke tanah lapang
ketika pulang SD. Sepertinya Yahya sangat menyayangi burung itu.
Suatu
ketika penyakit jantung ibu Yahya kambuh dan harus dibawa ke rumah
sakit. Tak lama ibu Yahya pun meninggal. Waktu itu Yahya masih duduk di
kelas 5 SD. Yahya menangis ketika ibunya akan dibawa oleh pelayat ke
pemakaman. Namun tidak lebih dari 1 bulan Yahya kembali ke aktivitasnya
yang dulu. Bermain burung dara.
Kelulusan SD aku
pindah ke kota lain untuk melanjutkan SMP. Aku tidak lagi bertemu Yahya.
Aku dengar ayahnya telah menikah dengan seorang janda. Yahya tinggal
bersama keluarga barunya itu. Bersama ibu dan saudara-saudara tirinya.
3
tahun menempuh SMP akhirnya aku kembali ke kampung halamanku disini.
Aku ingin masuk SMK favorit di kota asalku ini. Sampai suatu sore aku
berjalan menyusuri area persawahan milik orang. Aku melihat pemuda
berbadan kurus berjalan menuju ke arahku. Kaosnya berwarna merah polos
terlihat sedikit kedodoran di badannya. Celananya yang hitam komprang
mengikuti langkah kakinya yang semakin dekat ke arahku. Yah, itu Yahya.
Yahya teman masa kecilku. Tapi tatapannya kosong. Semakin dekat
denganku, langkahnya semakin pelan. Dia berhenti tepat di hadapanku. Aku
semakin bingung melihat tingkahnya. Yahya seolah tak mengenaliku.
Dahinya terlihat mengkerut sembari matanya menyipit menatapku. Ah aku
pikir dia pasti ingat padaku. Aku senyum padanya. Karena tidak lebih
dari 10 detik pasti dia berhasil mengingatku, teman masa kecilnya.
Mulutnya mulai membuka seolah-olah akan mengucapkan sesuatu. Aku semakin
bersemangat membiarkannya menebak namaku. Namun Yahya tetap tergagap
menatapku dan berkata, “a....aku....aku sakit”. Kemudian dia pergi
seperti orang bingung.
Aku masih diam berdiri
disana. Di pematang sawah milik orang. Seolah aku tak percaya dengan apa
yang terjadi beberapa saat yang lalu. Dia tidak ingat padaku? Dan apa
yang dia katakan? Sakit?
Matahari mulai
tenggelam. Aku kembali ke rumah. Usai sholat magrib aku bercakap-cakap
dengan Bapak. Aku cerita tentang kejadian sore tadi di pematang sawah.
Tentang aku bertemu Yahya, teman masa kecilku. Bapak mengatakan bahwa
sejak ayah Yahya meninggal dunia, Yahya ikut ibu tiri dan
saudara-saudara tirinya. Mereka masih tinggal di rumah yang dulu orang
tua kandung Yahya tinggal bersama. Rumahnya masih tetap besar. Hanya
saja rumah itu tidak seindah dulu waktu ibu Yahya masih hidup. Aku
sempat bertanya pada Bapak apakah Yahya sakit. Tapi kata Bapak, tidak
ada yang tahu pasti penyakit Yahya. Mereka hanya tahunya Yahya amnesia.
Dulu katanya ketika burung dara Yahya diterbangkan di lapangan, burung
itu tidak kembali lagi. Kemudian orang-orang mengatakan bahwa “Dorone ilang, ingatane melu ilang”.
Aneh jika hanya karena burung dara hilang kemudian ingatannya ikut
hilang. Sampai sekarang aku belum tahu sakit apa Yahya. Dan kenapa itu
bisa terjadi padanya.
Aku yakin dia sebenarnya
masih mengingatku. Hanya saja sakit aneh itu membatasi memorinya. Dia
tidak bisa mengungkapkan apa yang dia ingin ungkapkan. Sehingga dia
hanya mengatakan “aku sakit” kepada tiap orang yang ditemuinya, yang
mungkin dia rasa bahwa dia mengenalinya.
Aku
dengar juga rumah besar milik Yahya itu sekarang telah diatasnamakan
salah satu anak dari ibu tirinya itu. Aku tidak mau ikut campur. Tapi
Yahya, dia teman baikku. Teman masa kecilku yang telah berubah menjadi
Yahya yang linglung yang hanya melongo ketika melihat anak-anak kecil
bermain burung dara. Yahya yang tidak bisa mengingat orang-orang
disekitarnya, dan hal-hal kecil di masa lalunya. Memorinya memang
hilang, tapi nuraninya masih ada dan mencoba memahami sekitarnya...
Thanks to Yahya
Aku dedikasikan tulisan ini buat kamu yang sekarang entah dimana....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar